Tawuran : Kritik atas Kurangnya Ruang Publik bagi Pemuda

Standar

Dunia pendidikan dikagetkan dengan meninggalnya dua orang pelajar di Jakarta. Dua korban sudah meninggal dalam aksi tawuran berdarah antar pelajar tingkat menengah umum/kejuruan di Jakarta. Topik tawuran kemudian menjadi topik utama di dalam perbincangan baik di media maupun di masyrakat. Generasi muda nampaknya menjadikan tawuran ini sebuah tradisi dalam menunjukkan kekuatan sekolah mereka. Turun temurun tradisi tawuran ini dilakukan, demi menunjukkan siapa yang lebih kuat dan berkuasa.

Kesalahan tentu tidak terjadi ansih karena personal pelaku tawuran tersebut. Menurut hemat saya, kurangnya ruang publik untuk pemuda dalam menyalurkan dan mengekspresikan apa yang ada di dalam diri turut serta menyumbang sebab-sebab terjadinya tawuran ini. Para pelajar ini membutuhkan sebuah ruang dimana mereka dapat menyalurkan bakat mereka. Bukan bakat kekerasan yang seharusnya ditampilkan oleh para pelajar ini, bukan pula agresitivitas dalam diri pelajar yang dikembangkan.

Para pelajar butuh pengakuan atas dirinya. Keinginan akan eksistensi ini seharusnya disalurkan melalui ruang publik yang bersifat positif misalnya kompetisi olahraga, seni, ilmu alam, dan sebagainya. Kompetisi positif harus diciptakan dan dikembangkan terus menerus. Agar kompetesi yang bersifat negatif (tawuran) menjadi terminimalisir.

Melihat kebelakang, generasi muda menjadi ujung tombak dalam pergerakan kemerdekaan bangsa. 28 Oktober 1928 menjadi saksi bahwa pemuda dan pemudi Indonesia menjadi penggerak bagi persatuan bangsa Indonesia. Nampaknya, seperti itulah harapan bagi generasi muda di masa kini. Semangat para pemuda dan pemudi bangsa saat itulah yang seharusnya diserap intisarinya dan diaplikasikan dengan konteks keindonesiaan saat ini oleh para pelajar. Kreativitas dan inovasi dari para pelajar inilah yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan saat ini. Dimana kreativitas dan inovasi ini yang dapat bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negara.

Analisis lebih lanjut seharusnya dilakukan oleh para stakeholder yang berkaitan dengan bagaimana menciptakan sebuah pendidikan yang dapat menciptakan generasi muda yang pintar dalam olah pikir dan rasa. Tawuran ini seharusnya menjadikan kritik membangun bagi dunia pendidikan. Kurikulum yang dibangun tidak hanya sekedar bagaimana menghafal rumus maupun tanggal kapan sebuah persitiwa sejarah itu terjadi. Pendidikan bukan arena adu kekuatan. Akan tetapi bagaimana pendidikan adalah pertemuan argumen-argumen yang didasarkan pada akal sehat yang kemudian akan menghasilkan pengetahuan baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s