Ibu Kita Kartini : Pendekar kaumnya Untuk merdeka

Standar

Kartini, Aku mengenal nama mu ketika aku di bangku Taman Kanak-Kanak (TK), karena setiap tanggal 21 April aku dan teman-temanku diharuskan untuk memakai pakaian adat dan aku memakai pakaian adat jawa, kebaya jawa layaknya seorang perempuan jawa di keraton. Aku juga mengenalmu dari lagu yang ibuku perkenalkan kepadaku yaitu Ibu Kita Kartini karya WR Supratman.

Engkau disebut-sebut sebagai pahlawan yang memperjuangkan emansipasi perempuan tapi ketika itu aku belum tahu apa itu emansipasi perempuan dan mengapa harus diperjuangkan. Ketika aku menginjak pendidikan di Universitas, dimana perempuan di masa mu jarang dan susah perempuan bisa masuk tingkat universitas, aku baru mengetahui apakah itu perjuangan untuk kesetaraan seperti yang engkau cita-citakan, Kartini.

Tapi perjuangan untuk kesetaraan perempuan dan laki-laki itu ternyata butuh perjuangan gigih dan lama, tak hanya setahun, dua tahun. Sampai saat ini pun, perempuan masih harus berjuang untuk mendapatkan kesetaraan itu.

Tahukah engkau Kartini, perempuan masa ku, terutama di Jawa, sudah bebas untuk keluar rumah, tidak ada pingitan lagi seperti apa yang kamu rasakan dulu. Aku sebagai perempuan jawa tidak pernah lagi merasakan pingitan seperti apa yang kamu rasakan. Namun, alangkah baiknya kalau engkau mengetahui keadaan perempuan Aceh sekarang, Kartini.

Perempuan-perempuan Aceh harus menggunakan jilbab dan menggunakan rok sebagai simbolisasi syariat Islam. Perempuan-perempuan Aceh ini tidak lagi memiliki kebebasan untuk bisa mendefinisikan tubuhnya sendiri, bahkan untuk berpakaian. Perempuan-perempuan ini tidak lagi terbelenggu oleh pingitan adat tetapi sekarang mereka terbelenggu aturan yang mengatasnamakan agama dan mengangunggkan kitab (yang di-) suci (kan) hanya karena sebatas kepentingan politik elit.

Tahukah engkau Kartini, di Tangerang, perempuan dilarang keluar malam di atas jam 10? Perempuan yang berlaku mencurigakan dan keluar malam diatas jam 10 akan ditangkap oleh satpol PP dan dituduh sebagai pelacur. Tahukah engkau Kartini, di Jambi, DPRD-nya berencana untuk melakukan tes keperawanan sebagai syarat masuk ke SMA?

Lagi-lagi, moralitas masyarakat telah dinisbatkan di atas tubuh perempuan. Perempuan-perempuan ini memang tidak dipingit, tapi apalah bedanya dengan masa mu, Kartini. Perempuan-perempuan ini sama saja merasakan pingitan dari budaya patriarki yang tidak pernah hilang dari masyarakat kita. Perempuan ini dipingit oleh definisi moralitas ala elit pembuat kebijakan dan moralitas ala anggapan masyarakat. Aku yakin, betapa sedihnya engkau melihat perempuan saat ini yang dimana moralitas masyarakat hanya diukirkan pada tubuh perempuan saja.

Kartini, aku tidak tahu mengapa engkau mau menikah dengan seorang laki-laki yang sudah beristri tiga? Apakah ini adalah bentuk kepatuhanmu terhadap orang tua agar orang tua mu tidak malu? Ataukah engkau sudah tidak sanggup untuk melawan budaya patriarki dan penafsiran orang tentang Islam?

“Saya berkehendak bebas, supaya boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain, supaya jangan… jangan sekali-kali dipaksa kawin. Tetapi kawin, mesti kawin, mesti, mesti! Tiada bersuami adalah dosa yang sebesar-besar dosa yang mungkin diperbuat seorang perempuan Islam, malu yang sebesar-besar malu yang mungkin tercoreng di muka seorang anak gadis Bumiputra dan keluarganya.” (25 Mei 1899, Nona Zeehanderlaar)

Namun, sungguh aku sangat kagum ketika membaca sepenggal tulisannmu untuk Nona Zeehandelaar :

“…. Hukum Islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum Islam, tetapi selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab sengsara yang harus diderita seorang perempuan, bila lakinya pulang ke rumah membwa perempuan lain, dan perempuan itu harus diakuinya perempuan lakinya yang sah, harus diterima jadi saingannya? Boleh disiksanya, disakitinya perempuan itu selama hidupnya sepuas hatinya, tetapi bila ia tiada hendak membebaskan perempuan itu kembali, bolehlah perempuan itu menangis setinggi langit meminta hak, tiada juga akan dapat.” (6 November 1899)

Dari perjuangan mu aku bisa mendapatkan banyak pelajaran, Kartini. Perjuangan untuk kaum mu tentu sudah kita rasakan kini, tapi perjuangan terus akan berlanjut. Salah satu pelajaran yang aku dapatkan adalah bahwa perempuan memiliki pilihan atas dirinya sendiri. Itulah yang saya maknai sebagai kebebasan menjadi perempuan sampai saat ini.

(Tulisan ini merupakan balasan untuk surat kartini sebagai tugas kuliah mata kuliah Perempuan dan Politik)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s